Kamis, 21 Oktober 2021

  Dear Dei,

Not a day has gone by without missing you. And stalking you.

The truth is, I'm married now. that's why i stop talking to you, stop using social media as much as before.

I know I'm such a coward. I don't have guts to tell you even tho by message.

I remember when we first talk. And I think that I am now has became you, but darker.

This isn't my life, but i don't have power to change it. I think about you everyday and regret why I can't be perfect for you. I really want to meet you, but i think you might dissapointed. 

If only we know each other since we were younger, everything might still be fixed. 

You can hate me as much as you want, I deserve it. But I hope you live well and healthy, whoever you are with. I can never and will never forget you.

I love you forever, the love of my life. 


Best Regards,

Yuu




Minggu, 19 Oktober 2014

I'm-not-crazy

Alien, Tuhan kita.

Zecharia Sitchin dan Erich von Daniken adalah orang-orang pertama yang mungkin dikategorikan sebagai orang sinting, karena mareka menguak tabir besar tentang asal muasal manusia, makhluk yang berbeda cukup drastis dengan hewan, apalagi tumbuhan. Keduanya memberikan penjelasan tentang missing link baik dalam proses evolusi (jenis I) maupun proses penciptaan (jenis II).

Alien atau makhluk asing dari angkasa luar telah melakukan rekayasa genetis (genetic manipulation) di masa yang sangat lampau, sehingga terciptalah manusia. Entah dengan cara manual seperti melalui hubungan seks atau dengan teknologi canggih, DNA alien laki-laki telah bercampur dengan DNA manusia kera (Neanderthal) perempuan. Sehingga saat ini pun banyak ilmuwan yang masih bertanya-tanya mengapa terdapat satu bagian khusus yang terdapat dalam DNA manusia, namun tidak terdapat dalam DNA primata (kera, monyet, orang utan, simpanse, dan lain-lain). Padahal, kita diajarkan bahwa tidak ada garis putus antara manusia kera dan kita.

Dalam bukunya, The 12th Planet, Sitchin menjelaskan bahwa 300.000 tahun yang lalu, Adam direkayasa secara genetis dengan menambahkan gen Annunaki kepada manusia kera (hominid). Kemudian, berdasarkan Alkitab, memang terjadi perkawinan campur: “Ada masa ketika para raksasa berjalan di bumi” yang mengambil anak perempuan Adam sebagai istri-istri mereka. Dari hasil perkawinan itu, muncullah sejumlah pahlawan setengah dewa di dalam mitologi dan folklore Sumeria serta Babylonia, seperti Raja Gilgamesh.

Kita pun sebenarnya mengenal siapakah para alien, tapi selalu ditutupi oleh tabir yang membuat kita tidak kenal dengan mereka. Kita sebenarnya menyebut alien selama ini sebagai Tuhan (God), Ilah/Ilahi (Divinity/Divine), atau dewa-dewi (Gods and Goddesses), karena memang mereka-lah yang menciptakan manusia (homo sapiens) melalui rekayasa genetis dari manusia kera primitif. Mereka-lah para astronot kuno (ancient astronauts) seperti yang telah diungkapkan oleh Sitchin, dengan “kereta perang” (chariots) yang adalah pesawat antariksa mereka, seperti yang telah dikuak oleh Von Daniken. Mereka-lah Tuhan kita, sang pencipta.

Pohon pengetahuan yang misterius yang dimakan oleh Adam dan Hawa merupakan simbol bahwa itulah saat gen manusia kera primitif direkayasa dengan gen sang pencipta, yaitu para alien. Dengan demikian, manusia tercipta dengan “gambar diri” para pencipta, seperti halnya dalam ayat di kitab Kejadian yang telah dikutip sebelumnya: “Let us make man in our image, after our likeness” (Marilah kita menciptakan manusia dengan citra diri kita sendiri, dengan sifat seperti kita). Dengan begitu, manusia sengaja dibikin melalui rekayasa genetis, dengan citraan dan sifat yang sama dengan si penciptanya, misalnya sejentik kecerdasan (intelegensia) yang ditanam dalam otak kita. Tidak hanya itu, orang yang aware dengan asal muasal dirinya sebenarnya sudah dapat mencium sesuatu yang aneh dari subjek plural yang digunakan di kalimat tersebut, yaitu “us” (kami). Hal itu berarti, terdapat suatu bangsa makhluk dari luar bumi dengan kecerdasan yang luar biasa, yang turut andil dalam sejarah lahirnya nenek moyang kita.

Peradaban manusia yang pertama kali muncul adalah Sumeria pada tahun 5.000 sebelum masehi (SM), suatu wilayah subur yang berada di antara sungai Eufrat dan sungai Tigris, di suatu tempat yang sekarang disebut Irak. Tidak ada yang tahu mengenai asal-usul peradaban Sumeria, namun di dalam kitab suci Yahudi dan Kristen, dikisahkan bahwa Bapak agama Samawi, yaitu Abraham (Ibrahim) berasal dari kota Ur, ibukota bangsa Sumeria. Sejarah Sumeria memang cukup gelap, artinya kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum Sumeria ada. Hal yang pasti adalah bahwa bangsa Sumeria mempunyai peradaban yang sangat tinggi, dengan matematika dan astronomi yang mulai ditemukan saat itu, yang ditulis dengan aksara paku (cuneiform).

Fakta adanya bangsa Sumeria yang seolah-olah muncul begitu saja dari ruang hampa, serta memiliki ilmu yang tinggi membuat kita bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan si manusia kera tadi, sehingga dia bisa mengalami suatu lompatan evolusi yang sangat drastis? Zecharia Sitchin telah menguak sejarah yang gelap dengan menunjukkan bahwa bangsa alien telah turun di wilayah dekat sungai Eufrat, di mulut teluk Persia, karena di area itu terdapat konsentrasi yang cukup tinggi dari unsur mineral emas monatomis (monatomic gold).

Mengapa mereka mencari emas monatomis? Sebab di planet mereka sendiri, yaitu Nibiru, telah terjadi kepunahan emas monatomis akibat efek rumah kaca. Mereka terpaksa menjelajah alam semesta untuk mencari unsur yang sangat berharga itu. Apa sebenarnya fungsi emas monatomis? Kita perlu mengetahui bahwa mereka, para alien, sebagai nenek moyang kita, merupakan makhluk yang sangat cerdas dan memiliki spiritualitas yang tinggi. Emas monatomis dapat memperbaiki dan meningkatkan semua fungsi tubuh, sehingga memperpanjang usia bahkan menghentikan penuaan atas tubuh. Dalam kisah Alkitab, ada orang bernama Methuselah yang memanfaatkan emas monatomis itu dan dapat hidup hingga 950 tahun. Tidak heran, hingga detik ini, manusia masih menganggap emas sebagai logam paling mulia dan berharga, kendati platinum dan titanium merupakan mineral yang lebih kuat. Sebab, kita memiliki gen alien, mereka yang mencari emas hingga ke ujung alam semesta.

Emas monatomis merupakan metal super-konduktif. Artinya, jika ada rangkaian emas monatomis dialiri listrik, energi yang dialirkan tersebut tidak akan pernah berkurang atau antara output dan input besarnya sama-sama 100%. Jika emas monatomis diletakkan di otak kita, yang merupakan mesin elektronis yang sangat besar, kita dapat meningkatkan seluruh sistem syaraf dan indera kita. Fungsinya, kita dapat memahami dan memecahkan masalah dengan lebih baik, mengendus kejahatan, dan bahkan melakukan telepati serta penjelajahan waktu (time travel) melalui otak kita. Artinya, tidak ada keterpisahan antara tubuh dan spiritualitas kita, karena kita mampu melakukan apa saja tanpa terbatas hukum fisika, seperti halnya para alien yang dapat menjelajah alam semesta dan menembus ruang waktu.

Para alien yang datang ke bumi kita dan bertemu dengan manusia kera adalah anggota dari Kekaisaran Annunaki. Asal tahu saja, nama Annunaki (atau Annunaku) memang disebut dalam catatan cuneiform yang ditemukan dari hasil galian reruntuhan Sumeria. Umumnya, kita mengenal nama Annunaki dalam mitologi Sumeria/Akkadia. Mereka terkadang termasuk juga di dalamnya Annuna (50 Dewata Terbesar) dan Igigi (Dewata Rendahan/Minor). Rakyat Sumeria menyembah Annunaki yang memerintah manusia dan memiliki kebijaksanaan yang sangat tinggi. Annunaki, yang juga disebut dengan “da-nuna”, “da-nuna-ke-ne”, atau “da-nun-na” sendiri berarti “mereka yang berdarah biru” (those of royal blood) atau jika dibaca “anu-na-ki” atau “an-unnak-ki” berarti “mereka yang turun dari langit ke bumi”.

Dalam mitologi Sumeria, Dewan Annunaki dipimpin oleh Anu, Dewa Langit, yang juga adalah ayah kandung dari semua Annunaki. Anu kemudian mewariskan tahtanya kepada anaknya, Enlil, namun saudara laki-laki Enlil, yaitu Enki, memprotes keputusan itu karena merasa dirinya lebih berhak. Enki inilah yang dikenal sebagai dewa ahli kimia (alkemis) dan pencipta umat manusia. Annunaki terdiri dari tiga ras alien, yaitu Saurians atau Reptoids (bangsa Reptil bertubuh manusia raksasa), Agharians atau Nordics (bangsa yang mirip dengan manusia Kaukasian), dan Zeta (jenis alien Grey) yang tinggal di wilayah bintang Zeta Reticula. Apapun jalan cerita mitologinya, Annunaki adalah nenek moyang kita. Mereka menciptakan peradaban pertama dengan melakukan percampuran gen mereka yang sangat cerdas dengan gen manusia kera, sehingga terciptalah manusia biasa.

Kisah di dalam mitologi Sumeria tentang Enki menceritakan bahwa manusia diciptakan untuk mengerjakan semua pekerjaan kasar agar Annunaki bisa hidup dengan nyaman. Annunaki datang ke bumi untuk mencari emas monatomis, namun setelah mereka merasa tidak cocok untuk menambang sendiri, mereka melihat bahwa manusia kera dapat dimanfaatkan. Akhirnya, agar manusia kera dapat berpikir seperti yang dipikirkan Annunaki, direkayasalah gen mereka sehingga menjadi homo sapiens yang dapat berpikir lebih cerdas dan terampil ketimbang kera.

Mengapa manusia tidak percaya alien?

Kita, manusia, selalu merasa sebagai puncak evolusi dan mengatasi makhluk hidup lainnya. Kita selalu diajarkan bahwa kita adalah makhluk berakal, sementara makhluk yang lain tidak. Dengan demikian, kita sudah dibiasakan agar kita tidak mampu untuk melampaui pikiran kita sendiri. Kita merasa diri kita adalah garis finish dari semuanya.

Gambaran itu bisa kita lihat dalam diri ilmuwan (scientist). Para ilmuwan terbagi menjadi dua jenis, yaitu ilmuwan yang percaya bahwa ilmu pengetahuan (sains/science) bisa menjelaskan segalanya, termasuk misteri alam semesta yang selama ini belum bisa dipecahkan. Mereka percaya, bahwa itu hanya soal waktu untuk mencari pemecahannya. Jenis lainnya adalah ilmuwan yang tidak percaya bahwa sains bisa menjelaskan segalanya, karena ternyata terlampau banyak misteri alam semesta yang memang tidak bisa dipecahkan oleh akal manusia.
Ilmuwan jenis yang terakhir tersebut menyerahkan lubang-lubang (gaps) yang tidak bisa diisi sains, kepada agama maupun filsafat. Orang yang theistik menutup lubang misteri dengan agama. Orang yang atheistik menutup lubang tersebut dengan filsafat. Namun, ada masalah ketika gaps itu diserahkan kepada agama dan filsafat, karena keduanya dijelaskan dengan sistem simbol atau bahasa.

Manusia, sebagai makhluk yang merasa telah mengetahui semuanya, menganggap bahwa yang tertera di dalam agama dan filsafat adalah sebagaimana adanya. Demikianlah yang dikatakan oleh kitab suci atau demikianlah yang dikatakan oleh para filsuf. Manusia tidak merasa bahwa simbol atau bahasa justru seringkali berfungsi untuk menutupi atau menyelimuti kebenaran itu sendiri.

Ketika orang bertindak dan berbicara di luar sistem simbol atau bahasa yang kita kenal sehari-hari, orang itu dianggap gila atau sinting atau “tidak masuk akal”. Begitu pula penilaian terhadap orang yang selama ini berupaya membuka tabir besar bahwa kita tidak sendiri di alam semesta ini, bahwa kita bukan puncak evolusi, bahwa kita bukan makhluk yang paling berakal.  Orang yang merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang paling cerdas di alam semesta ini justru sering tidak bisa menjawab dari mana asal dirinya.

Manusia terbagi menjadi dua jenis ketika berpikir tentang asal muasal dirinya. Orang jenis pertama adalah orang yang percaya dengan evolusi, percaya bahwa kita berasal dari kera. Kita adalah kera yang berjalan dengan dua kaki secara tegak (homo erectus). Otak si kera juga ikut berevolusi, sehingga semakin cerdas setelah ratusan ribu tahun (homo sapiens) dan mampu menciptakan dunia di sekitarnya untuk melayani kebutuhan primer, sekunder, maupun tertier-nya.

Sedangkan orang jenis kedua adalah orang yang percaya bahwa sesosok zat adikuasa, entah di mana dia berada, menciptakan makhluk bernama manusia, dari zat lain, apakah tanah ataupun debu. Orang itu percaya bahwa sang zat adikuasa meniupkan nafas (roh/atman) ke dalam lempung yang setengah jadi itu. Akhirnya, terciptalah manusia yang terdiri dari tubuh fisik dan jiwa. Orang itu percaya bahwa si manusia adalah pemimpin bagi semua makhluk lainnya, yaitu hewan dan tumbuhan. Sebagai pemimpin, dia berhak untuk menguasai dunianya dan beranak-pinak hingga memenuhi bumi. Berikut kutipan ayatnya:

And God said, Let us make man in our image, after our likeness: and let them have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over the cattle, and over all the earth, and over every creeping thing that creeps on the earth. (Genesis 1 : 26, American King James Version)

Kedua jenis orang itu selalu berdebat bahwa pandangan mereka adalah yang paling benar. Tetapi, mereka tidak sadar bahwa terdapat sesuatu yang hilang (missing link) dalam kedua teori tersebut, baik proses evolusi (jenis I) maupun proses penciptaan (jenis II). Jenis pertama tidak bisa menjawab pertanyaan besar yang selama ini muncul, kenapa spesies manusia yang paling primitif, yaitu Cro-magnon, yang masih berjalan bungkuk dan sangat mirip dengan kera, tanpa keterampilan menciptakan apapun, tiba-tiba berubah menjadi homo sapiens dan mulai bisa menciptakan berbagai peralatan dari batu. Dari memakan segalanya mentah-mentah, sampai bisa menemukan api dan memasak makanannya. Sampai sekarang, baik arkeolog maupun ilmuwan tidak bisa menjawab sebenarnya kejadian apa yang membuat proses tersebut berubah drastis. Kita hanya diajarkan bahwa “manusia berevolusi dari kera bungkuk menjadi kera tegak yang cerdas”.

Jenis kedua, yaitu bahwa manusia diciptakan oleh “Tuhan” menjadi Adam (laki-laki) dan Hawa (perempuan), justru merupakan sebuah foklor atau cerita turun-temurun yang bahkan sudah tidak kita ketahui lagi kebenarannya. Namun, proses penciptaan tersebut justru menarik jika kita dalami mengenai simbol-simbol di dalam alur ceritanya. Kitab suci orang Yahudi dan Kristen menyebutkan bahwa Tuhan sebenarnya menciptakan manusia untuk melengkapi penghuni Taman Eden (Firdaus/surga) setelah diisi hewan dan tumbuhan. Namun, dalam foklor itu, Adam dan Hawa melakukan satu-satunya hal yang dilarang oleh Tuhan, yaitu memakan buah dari pohon pengetahuan. Dengan demikian, Tuhan membuang mereka ke bumi sehingga manusia harus menjalani kehidupan baru yang berbeda sama sekali dengan kehidupan di Taman Eden.

Missing link dalam kisah penciptaan Adam dan Hawa adalah apakah sebenarnya buah pohon pengetahuan itu. Di berbagai mitologi dan folklor dunia, banyak kisah mengenai pohon pengetahuan, misalnya Yggdrasil (Pohon Kehidupan) di mitologi Norse. Berbagai peneliti telah banyak mengkaji simbolisme pohon pengetahuan dengan berbagai keseimpulan. Namun, mengapa Adam dan Hawa ditendang dari surga karena makan buah pohon pengetahuan? Pasti pohon itu adalah sesuatu yang sangat bermakna bagi si pencipta.

Sabtu, 18 Oktober 2014

kamboja? khmer? :)

Ada sesuatu yang aneh timbul 
dalam hati gue kalo denger 
orang berbicara dalam bahasa 
Khmer. Seperti rindu. Seperti 
ingin pulang. Seperti sesuatu 
yang lama terkubur dalam jiwa gue. Terkadang gue bertanya- 
tanya.. apakah benar 
reinkarnasi itu ada. Jika 
memang demikian, mungkinkah 
ternyata gue itu dulunya 
orang Khmer? Atau mungkin.. gue emang orang sini aja.. 
cuman pernah dibawa pergi 
ke Kerajaan Kamboja dan 
akhirnya tinggal di sana? Siapakah gue dulunya? Tapi apakah dulu itu penting? 
Orang bilang… it’s not about 
who you were, but who you 
are. Karena yang sekarang 
yang dihitung. Yang sudah 
lalu, ya udah, sih, cin. Mau diapain? Tapi… masa lalu adalah yang 
membentuk gue sekarang. 
Apa yang terjadi di masa lalu 
gue bawa ke masa kini 
dengan misalnya: perubahan 
cara gue melihat dunia, pergantian kelompok bermain, 
pergeseran rute angkot dan 
sebagainya. Jadi sebetulnya, 
bagaimana bisa yang udah ya 
udahlah gitu? Sekarang ini gue lagi dengerin 
The Cambodian Space Project 
via myspace mereka. Sebuah 
tembang lawas House Of The 
Rising Sun dalam bahasa 
Khmer. Kenapa, sih, kita gak begitu juga? Bukan parodian 
kayak P Project, tapi emang 
versi bahasa Indonesianya aja. 
Kenapa, sih? Malu, ya ama 
bahasa sendiri? Katro gitu 
yah? Geli2 gimana gitu? Lebih keren kalo pure bahasa 
Inggris gitu aja ya? He. Gue seneng denger gimana
orang-orang Khmer ngomong. 
Bahasa Khmer itu aneh yet 
terasa kekeluargaan di 
kuping gue. Kayak seperti 
denger orang ngomong bahasa Jawa, bahasa Sunda, 
campur Padang, campur 
entah apa lagi… Begitu 
seperti negara sendiri.. tapi 
bukan.. kayak Thailand gitu, 
sih, bahasanya. Banyak stakatonya, sengau, dan 
banyak konsonan keselip di 
mana-mana suka-suka dia. Pernah suatu waktu gue 
kangen banget sama Kamboja. 
Gue browsing video-video 
‘gamelan’ Khmer dan 
tarian-tarian Khmer. Hiks. Gue 
malah sedih. Walaupun excited in the same time. Gue jadi 
teringat negara sendiri, gue 
jadi teringat masa lalu… lah? 
Masa lalu yang mana? Hari ini cukup melelahkan 
memang. Menjadi hari 
‘penutup’ rangkaian 
kegiatan penghiburan di 
minggu pertama bulan 
Desember ini. Dengan sisa-sisa energi melampiaskan segala 
perasaan hati yang kacau 
balau carut marut namun 
hahay ke atas papan yang 
seakan-akan hendak rubuh 
saat kami bergoyang I’m Free. Thanks God.

Minggu, 11 Mei 2014

Ruh

"Ktika aku mati untuk membuktikan bahwa harapanku benar, tetapi malah terkejut dg apa yg aku lihat. Saat aku tdk bs bersama dg org yg kucintai, setelah aku mati. Itu adalah perasaan tersakit yg dialami ruh sperti aku. Rasanya sprti lebih baik aku tdk usah ada dan nyata. Hingga skrg kasat mata dan hanya terluka menunggu titah Tuhan."

mati suri

Oke materi kali ini agak berat. mati suri. Kamu pasti heran kan antara si islam dg si kristen. Mreka smua bermimpi ttg neraka dlm versi yg brbeda. Org blg mati suri itu kita dipanggil tuhan untuk melihat2 sejenak. Tp kenapa bs berbeda? Benarkah ada 2 tuhan? Auloh dan Yesus?? Tesis pertama. #1. Agama adalah candu. Knapa candu? Krn ketika kita gagal atau terpuruk, kita dapat mengkambinghitamkan Tuhan atas ksalahan yg kita buat. Contoh. Org yg diputusin pacarnya, akan bilang kalo ini smua cobaan dr tuhan. Dia jadi ga bs liat dan ga mw tau faktor2 lain yg mengakibatkan knapa dia bs diputusin. Ntah itu krn dia tempramental, egois atau dungu. Contoh lain, doa. Ketika seseorang brdoa dan d kabulkan, dia mikir klo tuhan pasti sayang sm dia. Klo dikabulinnya lama, dia brfikir tuhan sedang menguji dia. Dan kalo ga dikabulin, tuhan lagi ngrncanain sesuatu yg lebih indah buat dia. See? Tuhan membuat psikologis manusia2 tsb mnjadi lbh positive thingking. Dan itulah ganja rohani yg manusia butuhkan dlm menjalani kehidupan. Krn agama adalah CANDU yg NIKMAT. Orang yg mati suri, membawa memori apa yg diketahuinya, bercampur dg imajinasi yg sekiranya adalah substansi2 dr memori tsb. Contoh org islam memimpikan neraka. Mreka di dunia mengingat apa yg telah mereka plajari ttg neraka dlm islam. Dan scr tdk lgsg membawa imajinasi2 liar ttg neraka, dan ktika bangun, berhasil meyakinkan org2 dungu bahwa yg dia lihat benar2 neraka.

jakarta

Ada bentangan hebat diantara kita ketika kamu menyebut nama "jakarta" dlm tarik-ulurnya keikhlasan yg aku jalani. Kamu memberhalakan sebuah kota yg membahayakan cinta kita.