Senin, 04 November 2013
The Beginning of Immortality
"aroma badai yang Άϑά di siang dan sore hari. Langit yg lunglai berzinah dengan jelaga sirius dan cumulonimbus.
Aroma gejolak laut yang bersinggungan dengan mayat2 pelaut,
Membayangkan mreka terhisap segitiga dlm mimpi brutal plato.
Bawah sadar dr ribuan dimensiku melahapmu, aku tau aku segila petir siang yang berwujud pelangi.
Awan mendung..
Aku adalah awan mendung, pasteurisasi kekecewaan yang tak kunjung hujan.
Bila nyata, aku ingin tak berraga.
Mengamati.. Tanpa terkontaminasi jasad2 super suci yg membersihkan otak gila ku.
Bawa aku pergi, Hades.
Berikan aku ambrosia dan menjadi milikmu, Dionysus. "
Kalo dibaca skali lagi, sense dari puisi aku di atas itu rasanya gelap, mendung, dingin tapi kering.
Banyak dari kita yang sering merasa kecewa dengan orang2 terdekat kita, tapi hanya bisa diam dan berpura2 ceria. Karena apa? Karena kita tak ingin membuat mereka juga merasa terdikte tindak tanduknya hanya karena kita orang terdekatnya.
Kadang kita ingin menghilang. Kalo kata bang Raditya Dika mah tembus pandang. Kita ingin mengamati setiap orang yg kita sayang tanpa perlu mereka tau kita ada di sana untuk menjaga mereka. Klise? Yah.. Itulah aku. Aku ingin sperti itu.
Aku ingin org2 yang kucintai bahagia dan aku tidak ingin mereka berpura2 di depanku. Like i did.
Ah.. Cukup lah sekian saja untuk hari ini. Lain kali akan kutulis yang lebih berbobot. :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar